Anak dengan Autisme

Rekan-rekan Guru Sekolah Minggu terkasih, bagaimana jika ada anak asuh kita adalah anak dengan autisme? Yang jelas, jangan ditolak atau membuat situasi yang membuat anak itu merasa tertolak. Kunci terpenting sekolah minggu yang baik, seperti juga halnya orang tua yang baik adalah membuat anak-anak kita yakin bahwa mereka yakin diterima dengan kasih sayang dan sama sekali tidak ditolak.

Ada beberapa hal yang perlu kita pahami untuk mengasuh anak-anak sekolah minggu dengan autisme. saya bukan ahlinya, tapi ada artikel yang baik di http://www.autis.info, dan saya kutip agar kita sama-sama belajar mengenai autisme.

Selama beberapa minggu ke depan, posting mengenai autisme akan saya angkat berselang-seling dengan bahan sekolah minggu lainnya. Selamat melayani dengan kasih!

MITOS TENTANG AUTISME

Mitos: Semua anak dengan autisme memiliki kesulitan belajar.

Fakta: Autisme memiliki manifestasi yang berbeda pada setiap orang. Simtom gangguan ini dapat bervariasi secara signifikan dan meski beberapa anak memiliki kesulitan belajar yang berat, beberapa anak lain dapat memiliki tingkat kecerdasan yang tinggi dan mampu menyelesaikan materi pembelajaran yang sulit, seperti persoalan matematika. Contohnya, anak dengan sindrom Asperger biasanya berhasil di sekolah dan dapat menjadi mandiri ketika ia dewasa.


Mitos: Anak dengan autisme tidak pernah melakukan kontak mata.

Fakta: Banyak anak dengan autisme mampu melakukan kontak mata. Kontak mata yang dilakukan mungkin lebih singkat durasinya atau berbeda dari anak normal, tetapi mereka mampu melihat orang lain, tersenyum dan mengekspresikan banyak komunikasi nonverbal lainnya.


Mitos: Anak dengan autisme sulit melakukan komunikasi secara verbal.

Fakta: Banyak anak dengan autisme mampu mengembangkan kemampuan berbahasa yang fungsional. Mereka mengembangkan beberapa keterampilan berkomunikasi, seperti dengan menggunakan bahasa isyarat, gambar, komputer, atau peralatan elektronik lainnya.


Mitos: Anak dengan autisme tidak dapat menunjukkan afeksi.

Fakta: Salah satu mitos tentang autisme yang paling menyedihkan adalah miskonsepsi bahwa anak dengan autisme tidak dapat memberi dan menerima afeksi dan kasih sayang. Stimulasi sensoris diproses secara berbeda oleh beberapa anak dengan autisme, menyebabkan mereka memiliki kesulitan dalam menunjukkan afeksi dalam cara yang konvensional. Memberi dan menerima kasih sayang dari seorang anak dengan autisme akan membutuhkan penerimaan untuk menerima dan memberi kasih sayang sesuai dengan konsep dan cara anak.

Orang tua terkadang merasa sulit untuk berkomunikasi hingga anak mau mulai membangun hubungan yang lebih dalam. Keluarga dan teman mungkin tidak memahami kecenderungan anak untuk sendiri, tetapi dapat belajar untuk menghargai dan menghormati kapasitas anak untuk menjalin hubungan dengan orang lain.


Mitos: Anak dan orang dewasa dengan autisme lebih senang sendirian dan menutup diri serta tidak peduli dengan orang lain.

Fakta: Anak dan orang dewasa dengan autisme pada dasarnya ingin berinteraksi secara sosial tetapi kurang mampu mengembangkan keterampilan interaksi sosial yang efektif. Mereka sering kali sangat peduli tetapi kurang mampu untuk menunjukkan tingkah laku sosial dan berempati secara spontan.


Mitos: Anak dan orang dewasa dengan autisme tidak dapat mempelajari keterampilan bersosialisasi.

Fakta: Anak dan orang dewasa dengan autisme dapat mempelajari keterampilan bersosialisasi jika mereka menerima pelatihan yang dikhususkan untuk mereka. Keterampilan bersosialisasi pada anak dan orang dewasa dengan autisme tidak berkembang dengan sendirinya karena pengalaman hidup sehari-hari.


Mitos: Autisme hanya sebuah fase kehidupan, anak-anak akan melaluinya.

Fakta: Anak dengan autisme tidak dapat sembuh. Meski demikian, banyak anak dengan simtom autisme yang ringan, seperti sindrom Asperger, dapat hidup mandiri dengan dukungan dan pendidikan yang tepat. Anak-anak lain dengan simtom yang lebih berat akan selalu membutuhkan bantuan dan dukungan, serta tidak dapat hidup mandiri sepenuhnya.

Hal itu menyebabkan kekhawatiran bagi sebagian orang tua, terutama ketika mereka menyadari bahwa mereka mungkin tidak dapat mendampingi anak memasuki masa dewasanya. Oleh karena itu, anak dengan autisme membutuhkan bantuan.

Untuk itu, diperlukan suatu diagnosis yang tepat dan benar untuk seorang anak dikatakan sebagai autisme. Setelah mendapatkan diagnosis yang tepat, anak tersebut dapat melakukan suatu terapi. Anak dengan autisme dapat dibantu dengan memberikan terapi yang sesuai dengan kebutuhannya. Salah satu terapi yang dapat dilakukan adalah dengan terapi okupasi. (Dedy Suhaeri/”PR”/Winny Soenaryo, M.A., O.T.R./L. Pediatric Occupational Therapist)***

Lukisan: “Tenang dalam pelukan Roh-Nya”

Rekan Guru  Sekolah Minggu, mari kita merenung dan  refreshing dikit sambil menikmati lukisan dan syair ini.

Pada lukisan di bawah ini, saya ingin menggambarkan tantangan yang semakin berat dalam pelayanan dan kehidupan anak-Nya. Mungkin ada Guru SM yang terkendala oleh pekerjaannya, tantangan dari keluarga, cemoohan,  mungkin juga konflik internal gereja, atau apapun bentuk hewan buas serta api yang menyala-nyala dan senantiasa siap menghanguskan pelayanan Anda.

Mari arahkan pandangan hanya pada Yesus dan jangan undur dari pelayanan hanya karena tantangan, sehebat apapun kesulitan yang kita hadapi. Bawa dalam doa kepada Yesus. Ia pasti menerima kita yang datang dalam Roh dan kebenaran. Dipeluk dan dipangku dengan penuh kasih sayang.

Saat itulah mujizat terjadi, segala api yang coba-coba menghanguskan kita itu akan lenyap oleh api sejuk dari Roh Suci. Mari nikmati bersama-sama.

"Tenang dalam pelukan Roh-Nya"

“Tenang dalam pelukan Roh-Nya” (Moses Foresto, 2010) Oil on Canvas, 150cm X 190cm.

Tenang dalam pelukan Roh-Nya

Bumi kian gerah, sesak oleh hawa benci dan amarah

Udara beracun, badai api nafsu menggelora

Tanah menganga membara, siap menelan mentah-mentah

Dimana lagi kuharus berpijak?

Dengan apalagi kuharus bernafas?

Bagaimana kuharus hidup?

Buat apa kuhidup jika hanya untuk ditelan musuh?

Sedang hidup saat ini adalah penentu pilihan

Abadi bersama musuh dalam kelam nan ganas,

atau hidup dalam Dia dengan sejahtera melimpah

Sejauh mata memandang hanyalah gelap dan kobaran api

Titik-titik terang dimana-mana ditelan api, sisakan abu dan asap

Semua nyata, senyata diriku dan senyata panas menghanguskan

Lalu musuh dan berlaksa-laksa pasukan datang memburu

Lalu terdengar ajakan:

“Jangan panik atau takut. Tetaplah tenang. Pejamkan mata, hanya di dalam Roh dan kebenaran kau selamat!”

Kupejamkanlah mata dalam doa pada-Nya,

Lutut tertekuk dalam segala sesal dan ucap syukur

Kusujud memuji dan menyembah, hingga kutemui:

Hanya dalam Roh, bahaya nyata sirna

Hanya dalam Roh, api terangmu yang sejuk kian nyata mengatasi segala nyala api

Hanya di dalam Roh, aku dimurnikan, diberi ampunan pendamaian

Lalu Ia semakin erat memeluk aku

Aku pun hidup.

MosF, Ungaran, 21 Agustus 2010

Inilah proses pembuatan lukisan.

Garap lukisan "Tenang di pelukan Roh-Nya"
Garap lukisan “Tenang di pelukan Roh-Nya”

Billy kecil pun ikut membantu bersama kakaknya Yana Priskila dan Ima Jemima. Ha ha ha… thanks guys!

Dari geladak kapal penuh BerKaT (Bersyukur Kepada Tuhan!), Agustus 2010.

BELAJAR BERSYUKUR (BAGIAN 2): FOTO KARYA KEVIN CARTER, dll.

Sudan Famine, Kevin Carter
Sudan Famine, Kevin Carter

Beberapa malam ini perasaan saya sungguh terguncang ketika melihat sebuah foto karya Kevin Carter, pemenang Pulitzer tahun 1994.  Di foto itu terlihat seorang anak yang kurus kering dan kelaparan, diincar oleh seekor burung bangkai di belakangnya. Pada keterangan foto itu, tertulis bahwa tidak ada yang tahu nasib anak perempuan itu karena si fotografer segera pergi setelah memotretnya, kemudian si fotografer akhirnya meninggal bunuh diri karena depresi 3 bulan kemudian (ternyata keterangan itu tidak benar). Kevin Carter meninggal 3 bulan setelah foto masterpiece-nya itu menerima penghargaan Pulitzer tahun 1994. Apa yang sebenarnya terjadi pada foto dan fotografernya? Ada dorongan kuat untuk mencari tahu kisah di balik foto tersebut. Setelah googling kesana-kemari, akhirnya saya temukan beberapa keterangan.

Kevin Carter
Kevin Carter

Sang fotografer, Kevin Carter lahir 13 September 1960 di Johannesburg dan meninggal 27 Juli 1994, adalah seorang jurnalis foto asal Afrika Selatan. Sebelum memenangkan hadiah Pulitzer untuk Feature Photography tahun 1994, pada tahun 1983 ia memulai karir sebagai fotografer olahraga dan tahun 1984 pindah kerja ke Johannesburg Star, bertekat akan mengekspose kebrutalan apartheid.

necklacing
necklacing

Carterlah yang pertama membuat foto eksekusi di hadapan umum dengan “necklacing” yaitu hukuman sadis untuk seorang terhukum dengan cara mengalungkan ban karet yang diisi bensin, lalu dibakar. Dengan cara seperti itu, si terhukum biasanya mati dalam waktu 20 menit dan sangat tersiksa.

kevin_carter_image015
kevin_carter_image015

Bulan Maret 1993, Carter berangkat ke Sudan. Dalam suatu perjalanan ke suatu di desa bernama Ayod, ia melihat seorang anak kecil kurus kering sedang berjuang keras menuju dapur umum. Di tengah jalan si gadis kecil itu beristirahat dan tak lama kemudian seekor burung bangkai mendarat di belakangnya dan seakan menunggu kematian si gadis kecil itu. Menurut Carter, ia menunggu selama kurang-lebih 20 menit untuk menunggu burung bangkai itu merentangkan sayapnya, ternyata tidak. Akhirnya Carter memotret karya mengerikan itu, lalu mengusir si burung bangkai. Namun tindakannya itu tetap mengundang kritik karena tidak segera menolong sang gadis kecil, malah lebih dulu menunggu sekian lama untuk menghasilkan fotonya itu.

Foto itu kemudian dijual ke The New York Times dan diterbitkan tanggal 26 Maret 1993. Malam itu juga ratusan orang menelpon koran tersebut, menanyakan apakah anak kecil yang ada di foto bertahan hidup. Hari berikutnya, koran itu menambahkan catatan bahwa si gadis kecil bertahan hidup dan mampu menghindari burung bangkai namun bagaimana nasibnya kemudian tak ada yang tahu. Menanggapi hal itu, ada penulis lain yang mengatakan bahwa jika burung bangkai mengamati calon korbannya hingga lemah, maka Carter mengamati dengan cara yang sama dari balik lensa kameranya.

Pada tanggal 2 April 1994, Nancy Buirski, editor foto asing New York Times menelpon Carter dan memberitahukan bahwa fotonya memenangkan penghargaan paling bergengsi untuk jurnalisme foto. Carter dianugerahi Penghargaan Pulitzer untuk Fotografi Fitur pada tanggal 23 Mei 1994 di Low Memorial Library Columbia University.

Pada tanggal 27 Juli 1994 Carter mengendarai mobilnya ke sungai Braamfontein Spruit tak jauh dari Field and Study Centre, tempat dimana ia sering bermain-main di masa kecilnya. Di situlah ia bunuh diri, setelah dengan sengaja mengalirkan asap dari knalpotnya ke dalam mobil. Ia dinyatakan meninggal karena keracunan karbonmonoksida di usia 33 tahun.

Dalam surat terakhirnya sebelum bunuh diri Carter menyatakan bahwa ia benar-benar tertekan, depresi akibat bangkrut serta dihantui bayangan kejamnya perang, pembunuhan, kemarahan dan sakit… anak-anak yang terluka dan kelaparan, orang-orang gila yang gemar menarik pemicu senjata, seringkali adalah polisi, algojo pembunuh. Pada bagian akhir, Carter menulis, “Aku pergi bergabung dengan Ken, jika beruntung”. Ken yang dimaksud adalah Ken Oosterbroek adalah sahabatnya, sesama fotografer yang terbunuh dalam suatu insiden di bulan April 1994, 3 bulan sebelum Carter bunuh diri. Tragis.

Inilah beberapa foto karya Kevin Carter dan rekannya yang lain mengenai bencana kelaparan.

soudan-kevin-carter-et-megan-patricia-carter
soudan-kevin-carter-et-megan-patricia-carter
famine-relief05
famine-relief05
sudan2- karya james-nachtwey
sudan2- karya james-nachtwey
starvation
starvation

Jika di atas kita melihat foto-foto mengenai korban kelaparan yang setengah mati, berikut ini foto-foto pemakaman para korban yang mati akibat kelaparan.

Memandikan Jenazah, karya Don Melvin
Memandikan Jenazah, karya Don Melvin
www.reuters.com_-300x200, Ayah menggendong jenazah anaknya
http://www.reuters.com_-300x200, Ayah menggendong jenazah anaknya
Pemakaman Korban Kelaparan
Pemakaman Korban Kelaparan

BELAJAR BERSYUKUR (BAGIAN 1)

Perasaan saya tergugah ketika melihat beberapa foto tentang bencana kelaparan yang menimpa berbagai belahan dunia. Korban terbanyak yang tak mampu menahan derita itu adalah anak-anak.

Dengan penjelasan yang baik, mungkin ada baiknya anak-anak kita melihat foto-foto tersebut, bahkan mungkin juga kita yang dewasa, termasuk guru-guru sekolah minggu serta orang tua. Inilah beberapa di antaranya.

Silakan klik gambar untuk memperbesar tampilan.

Jelas salah kalau kita merasa bersyukur karena melihat penderitaan orang lain, namun adalah baik halnya jika kita diingatkan untuk bersyukur karena pemeliharaan Tuhan atas kita dan untuk bertindak meringankan beban mereka yang kurang beruntung!

CATATAN KHUSUS: MELAYANI MURID TUNA RUNGU 2

Jangan sampai seorang Guru Sekolah Minggu kesulitan atau karena keterbatasannya sampai mengabaikan murid yang memiliki kekhususan. Carilah cara untuk mengatasinya. Belajar bahasa isyarat, melakukan pendekatan khusus dan cari tahu dari berbagai sumber untuk melayani mereka dengan baik.

Berikut ini beberapa artikel, catatan yang sangat berharga dari seorang penulis yang mau berbagi pengalaman mereka. Terimakasih banyak untuk Mama Ellen dan Papa Ellen.

Koordinasi Peran Orang Tua dan Sekolah dalam Proses Belajar Anak Tuna Rungu

(by: mama Ellen, edited by papa Ellen)

Kendala Ellen Peran guru Tim PP Teman Orang tua
Memahami percakapan di kelas Memberi tahu orang tua materi harian, kalau bisa >1 hari sebelumnya (untuk mencari gambar yg sulit diperoleh) • Menyiapkan Ellen sebelumnya• Mengulang lagi sesudahnya
Memahami instruksi guru Guru pendamping mengulang dengan bicara dekat telinga, volume normal, kalimat pendek, pointnya saja

jika belum mengerti:

• dengan gerakan tangan

• ditulis di buku catatan

Melatih di rumah sesuai catatan dari guru
Memahami pembicaraan teman Berbicara secara biasa (bertatap muka)

jika blm mengerti:

dengan gerakan tangan

Mengajar Ellen menjawab pertanyaan/ mengucapkan sesuatu Berbicara dekat telingajika Ellen sulit mengucapkan:• dibantu dengan Ellen melihat gerakan mulut• ditulis di buku catatan Melatih di rumah sesuai catatan dari guru
Pengucapan belum jelas Membetulkan pengucapan dgn teknik2 terapi wicara • Memberi masukan pada tim PP mengenai kata-kata baru yang sudah dimengerti Ellen, untuk dibetulkan pengucapannya• Membantu follow up dengan teknik auditori verbal
Keterbatasan vocab Menguji pemahaman berdasarkan laporan berkala dari orang tua • Memasok kosa kata2 baru dengan teknik auditori verbal, terutama yang sedang jadi materi di kelas

• Melaporkan pada tim PP secara berkala (mingguan)

Komunikasi Sehari-hari Anak Tuna Rungu

Dalam percakapan sehari-hari dengan kata-kata yang sudah “dimengerti” Ellen, bukan ketika sedang terapi atau mengajarkan kata/kalimat baru (maksud “dimengerti”: Ellen sudah paham yang kita maksud, walaupun kadang ia bisa merespon dengan kata-kata dan kadang belum bisa):

kita berbicara secara normal
(sebagaimana bicara dengan semua orang lain)

Karena untuk itulah Ellen dimasukkan ke komunitas umum supaya sedikit demi sedikit belajar sampai suatu saat bisa mengejar ketertinggalannya.

Jadi kami minta pengertian dan kerjasama semua pihak yang terkait dengan kehidupan sehari-hari Ellen (keluarga, pengasuh, guru sekolah, terapis wicara, guru sekolah minggu, teman-teman, tetangga) untuk:

1. Tidak memandang Ellen sebagai anak yang khusus jadi tidak perlu mengajaknya berkomunikasi dengan cara khusus (memperlihatkan gerak bibir, berbicara keras/teriak, bahasa isyarat/gerakan tangan)

2. Memahami keterbatasan komunikasi Ellen karena usia mendengarnya yang baru 2 tahun sehingga belum banyak kosa kata (tetapi perkembangan intelektualnya biasa) dan berbicara secara normal sebagaimana kepada anak yang masih sangat kecil, sambil memberi ruang kepada Ellen untuk mengejar ketertinggalannya.

Point 1 terutama sangat berat. Sulit sekali mengubah paradigma dan persepsi kebanyakan orang terhadap anak tuna rungu: Bahwa anak tuna rungu tidak bisa mendengar, sehingga harus bicara berhadap-hadapan dengan perlihatkan gerak bibir, dengan suara keras/teriak, dengan bantuan isyarat/gerakan tangan.

Syukurlah anggota keluarga di rumah sudah sama pandangan dan menerapkannya. Kalangan lain mudah-mudahan bisa segera menyusul.

Terapi Terpadu untuk Anak Tuna Rungu

Prinsip Dasar Terapi Ellen
(Terapi terpadu = terapi mendengar + terapi wicara)

1. Mendengar melalui telinga yang dibantu ABD, bukan karena melihat gerakan tangan atau gerakan mulut.

2. Keterbatasan si anak dalam merespon pembicaraan kita adalah karena belum mengerti kata/kalimat yang didengar (keterbatasan kosa kata, karena baru mulai mendengar selama 2 tahun), sehingga perlu dibantu dengan gambar/gerakan tangan. Tetapi bantuan inipun sifatnya hanya sesaat dalam rangka memasok kata baru, setelah kata tersebut dimengerti, bantuan visual dihilangkan.

3. Karena itu yang penting adalah memasok kosa kata ke telinga Ellen, tanpa menuntut dia segera/langsung dapat mengerti apalagi mengucapkan. John Tracy Clinic menuliskan: untuk dapat mengerti suatu kata si anak harus mendengar 100 kali, untuk dapat mengucapkan ia harus mendengar 1000 kali. Jadi sejak Ellen memakai ABD kami konsentrasi memasok dan memasok kata ke telinganya (saat bercakap-cakap normal, maupun saat spesifik mengajarkan kata-kata baru).

4. Teknik berbicara adalah dengan volume suara normal di dekat telinganya. Hal ini bertujuan agar suluruh konsonan dapat ditangkap. Bicara pada jarak yang lebih jauh dengan suara keras (berteriak) menyebabkan yang ditangkap hanya vokal saja.

5. Kami telah menerapkan point 1-4 selama 1 tahun dan telah terbukti menunjukkan hasil yang baik. Pada akhir tahun pertama, dia baru memiliki bahasa reseptif (paham beberapa kata yang kami ucapkan tanpa dia melihat gerak bibir, tapi dia belum bisa mengucapkannya), lalu setelah itu mulai muncul kata-kata pertamanya (walau pengucapan tidak sempurna, tetapi konsisten), dan langsung disusul dengan kata-kata berikutnya. Metode ini biasa disebut teknik auditory verbal. Ini yang kami terapkan…

6. Kendala yang muncul adalah pengucapan yang masih sangat lemah, karena itulah atas saran John Tracy Clinic kemudian Ellen dibantu terapi wicara (di suatu RS). Terapis wicara membantu membentuk pengucapan Ellen dengan teknik terapi wicara terhadap kata-kata yang sudah dimengerti Ellen tetapi belum bagus pengucapannya. Walaupun hanya 4 bulan (terpaksa quit karena tidak tertampung jadwal baru mereka yang hanya pagi–siang), pola ini telah menunjukkan hasil yang menggembirakan. Metode auditory verbal + terapi wicara ini biasa disebut auditory oral. Ini yang kami lanjut-terapkan saat ini (dengan bantuan terapis wicara di sekolah).

Catatan:
– Penelitian modern menyatakan hampir semua anak tuna rungu masih punya sisa pendengaran (tidak 100% tuli). Sisa pendengaran ini dapat dioptimalkan dengan bantuan alat bantu dengar (ABD, walaupun tidak secanggih implan koklea).
– Tetapi memakai ABD tidak sama dengan orang memakai kaca mata, yang langsung bisa melihat dengan lebih jelas. Karena respon atas stimuli visual adalah langsung, sedangkan respon atas stimuli auditori adalah melalui tahap pemahaman/interpretasi dulu. Untuk mencapai tahap pemahaman yang penting adalah harus sering mendengar dan mendengar, dengan pengucapan yang jelas, kalimat pendek, dan jika perlu disertai bantuan visual: gambar & gerakan tangan (kadang tanpa bantuan akan sulit anak memahami kata-kata baru, mirip kita nonton film berbahasa asing dimana kita mendengar pemain berbicara cas-cis-cus tanpa kita menangkap artinya). Tetapi bantuan itu perlahan dihilangkan, sehingga nantinya hanya akan berkomunikasi secara verbal.(by: mama Ellen, edited by papa Ellen)

Sumber:

http://yefvie.wordpress.com/category/tuna-rungu/

http://tunarungu.wordpress.com/

CATATAN KHUSUS: MELAYANI MURID TUNA RUNGU 1

Terapi Musik untuk Anak Tuna Rungu

CAMT, Wilfrid Laurier University (terjemahan bebas oleh: Nora. A. Rizal)

Kerusakan pendengaran ditengarai merupakan salah satu kecacatan syaraf yang paling merusakkan. Dimana kecacatan penglihatan merupakan handicap kita dengan sekeliling kita, sedangkan kecacatan pendengaran merupakan handicap komunikasi dengan masarakat (Darrow, 1989). Komunikasi merupakan dasar dari kehidupan social kita dan aktivitas intelektual, dan tanpa itu kita terputus dari dunia. Untuk alasan inilah, praktek klinik dalam terapi musik untuk tuna rungu di fokuskan pada area yang berhubungan dengan komunikasi seperti : pelatihan auditory, produksi suara (berbicara) dan perkembangan bahasa. Melalui penelitian dalam kekurangan pada komunikasi ini, terapi musik menjadi suatu efek kedua untuk memperbaiki rasa sosial dan kepercayaan diri.

Terapi musik masih dianggap tidak praktis. Dikarenakan sebagian besar orang masih mempunyai konsep yang salah terhadap ketuna runguan dalam kapasitasnya untuk mendengar dan mengapresiasi stimulus musik. Seperti yang telah Darrow (1989) katakan, hanya sebagian kecil persentasi dari ketunarunguan yang tidak bisa mendengar sama sekali. Selanjutnya ia mengatakan bahwa, dikarenakan variasi dari frekuensi dan intensitas pada musik, persepsi musik malah lebih bisa ter-akses, dibandingkan dengan sinyal percakapan yang lebih kompleks. Musik juga sangat fleksible dan dapat dimodifikasikan pada level pendengaran pada setiap orang, level bahasa, kematangan dan preferensi musik.

Robbins & Robbins (1980), yang membuat manual resource yang komprehensif dan kurikulum bagi terapi musik untuk tuna runggu melakukan pendekatan terhadap subyek bersangkutan dengan mempunyai sikap yang mempercayai bahwa sense terhadap musik ada pada setiap orang. Melalui musik, mereka mengarah pada sensitivitas yang inherent dan kapasitas merespon langsung kepada ekspresi dari ritme dan variasi nada, yang dideskripsikan sebagai musik. Mereka juga menekankan, bahwa musik dari berbagai sisi mempunyai efek pada manusia. Musik merupakan media untuk aktivitas dalam bereksplorasi dan pengalaman diri, sehingga berhubungan langsung pada bicara dan bahasa, komunikasi dan pikiran, juga pada ekspresi tubuh dan emosi dalam skala besar. Sehingga terapi musik dapat masuk dan meningkatkan habilitas dan perkembangan secara luas bagi ketuna runguan.

Bagi penderita tuna rungu, terapi musik dapat:

Meningkatkan auditory, pelatihan dan perluasan penggunaan dari sisa pendengaran

Auditory training, merupakan bagian yang terintegrasi denga proses habilitasi pada penderita tunarungu. Tiap individu harus belajar untuk menginterpretasikan dan mengikuti suara, terutama percakapan dalam lingkungannya, dengan maksud untuk meningkatkan rate dan kulitas perkembangan sosial dan komunikasi. Tujuan utama dari auditory training ini adalah untuk mengembakan sisa pendengaran menjadi maksimal. Mereka harus belajar untuk mendengarkan mental yang kompleks dan proses aural. Pelatihan auditori cenderung fokus pada developmment dan fokus untuk analisis suara untuk pasien tuna rungu, dan ini akan menjadikan suatu proses yang membosankan dan tidak menarik. Maka dari itu musik menjadi suatu alat yang memotivasi dan menghidupkan sesi-sesi ini.

Percakapan dan musik mengandung banyak persamaan. Persepsi auditori pada percakapan dan musik melibatkan kemampuan untuk membedakan antara perbedaan suara, pitch, durasi, intensitas dan warna nada dan bagaimana suara bisa berubah-ubah sepanjang waktu. Properti-properti ini terdapat pada kemampuan pendengaran untuk menginterpretasi suara dan mengartikannya. Persamaan yang ada antara musik dan percakapan menyebabkan musik dan terapi musik membuat suatu alternatif dan alat yang menyenangkan untuk melengkapi tehnik pelatihan auditory sebelumnya (Darrow, 1989).

Prosedur terapi musik dapat dapat memberikan beberapa obyek pada pelatihan auditory. Perhatian terhadap suara, perhatian terhadap perbedaan dalam suara, mengenali obyek dan juga suara obyek tersebut, dan penggunaan pendengaran untuk menentukan jarak dan lokasi dari suara dapat dilatih melalui pengalaman pada musik (Darrow 1989). Selain itu, Robbins & Robbins (1980) menemukan bahwa dengan musik yang cocok lebih gampang untuk di dengar dan diasimilasikan dibandingkan dengan percakapan, sehingga lebih cocok untuk dapat menstimulasi motivasi alami pada sisa pendengaran.

Amir & Schuchman (1985) membuat suatu program terapi musik untuk mengembangkan dan meningkatkan kecakapan dalam kesadaran akan suara musik, kesadaran akan kontras intensitas, menyadari adanya suara musik dan juga patron dari musik tersebut. Suatu investigasi untuk melihat keefektifan dari program tersebut memberikan suatu hasil bahwa ada aspek-aspek tertentu untuk seseorang yang profoundly deaf dapat diukur peningkatannya melalui suatu program sistimatik pada pelatihan pendengarannya dalam konteks musikal. Terutama level pendiskriminasian subyek secara signifikan meningkat dan pelatihan dari subyek dalam menerima musik dan juga lingkungan musik tersebut. Amir & Schuchman selanjutnya menyuport penggunaan terapi musik ini dikarenakan hal ini memberikan suatu diversifikasi yang menarik dan pengalam pengajaran yang positif, dengan memperkuat penggunaan sisa pendengaran. Meningkatkan perkembangan percakapan dan meningkatkan intonasi/ritme suara dalam percakapan.

Suara dari seseorang yang mempunyai kekurangan pendengaran sering terdengar aneh dan tidak natural. Pada individu ini sering terjadi kurangnya feedback mekanisme internal yang diperlukan untuk memonitor dan menyesuaikan, sebagai contoh, pelafalan kata-kata, perubahan tinggi rendah (pitch) suara ataupun ritme suara. Sebagai konsekuensi produksi dari suara percakapan mereka sering tidak jelas dan terdistorsi. Penderita tuna rungu ini juga cenderung menunjukkan sedikit variasi pitch dan intonasi dibandingkan orang dengan pendengaran normal, sehingga menghasilkan suara yang monoton. Mereka sering memanjangkan suku kata dan atau kalimat dan juga sering mengambil jeda pada posisi yang tidak tepat. Problem-problem dari ritme dan intonasi ini berpengaruhi pada ketidak jelasan dalam bercakap.

Tehnik dari terapi dan aktivitas musik dapat membantu secara efektif pada perkembangan percakapan dari segi ritme, intonasi, rate dan tekanan suara. Darrow (1989) mendisikusikan penggunaan terapi musik dalam pengertian berbahasa, intonasi vokal, kualitas vokal dan berbicara lancar. Proses bernafas, ritme dan pengambilan waktu yang tepat, pitch dan artikulasi yang diperlukan untuk bernyanyi, memberikan struktur dan motivasi yang penting pagi pasien. Darrow juga menekankan pada pentingnya feedback yang konstan untuk si terapis.

Darrow & Starmer (1986) mempelajari efek dari pelatihan vokal pada frekuensi dasar, range frekuensi dan kecepatan percakapan pada suara anak-anak tuna rungu. Anak-anak ini cenderung mempunyai frekuensi dasar yang tinggi dan sedikit variasi pitch, memproduksi suatu permasalahan dalam kecakapan berbicara. Hasil dari studi ini menyarankan bahwa dengan latihan pada vokal tertentu dan menyanyikan lagu-lagu pada kunci nada rendah yang tepat dapat membantu memodifikasian frekuensi dasar dan range frekuensi pada pasien. Studi lain dari Darrow (1984) juga menunjukkan peran dari terapi musik adalah melatih respons ritme, sehingga membuat respons pada ritme dari suara percakapan menjadi lebih baik.

Staum (1987) telah sukses menggunakan notasi musik untuk mempengaruhi dalam memperbaiki pengucapan bahasa pasien. Ia menggunakan sistem notasi visual sebagai alat untuk membantu pasien dalam mencocokkan kata-kata atau suara dari kata-kata baik yang lazim maupun tidak lazim, dengan ritme yang tepat dan struktur yang dari pitch yang mudah. Hasil positif yang didapat adalah nada pelafalan pengucapan lebih berkembang, juga penyamarataan dan transfer ilmu berkembang secara signifikan

Robbins & Robbins (1980), setelah pelatihan pada pasien tunarungu, mengatakan bahwa kontribusi dari terapi musik untuk memperkuat dan/atau mempercepat pembelajaran dan penggunaan percakapan, vokal yg lebih luas/spontan dan mantap, memperbaiki kualitas suara dan lebih leluasa dalam menggunakan intonasi dan ritme.

Meningkatkan perkembangan dan pendidikan bahasa, dan meningkatkan kemampuan berkomunikasi secara umum

Bagi anak-anak tuna rungu, keterbatasan input pendengaran tidak hanya mempengaruhi kemampuan untuk mendengar suara percakapan dari orang lain, namun juga mempunyai dampak negatif terhadap perkembangan bahasa mereka sendiri. Keteraturan memperdengarkan bahasa melalui pendengaran, memberikan informasi penting mengenai vocabulary, syntax (kalimat), semantics (arti kata) dan pragmatics, yang mana hal ini secara langsung diterima oleh anak dengan pendengaran normal. Tanpa keteraturan mendengarkan ini, bagi anak dengan pendengaran terbatas biasanya akan mempunyak banyak problem pada bahasa mereka. Kesulitan itu biasanya terdapat pada kurangnya vocabulary, kesulitan dalam mengartikan kata, menggunakan kata yang salah, struktur dan isi bahasa yang salah, dan lainnya. Kesulitan-kesulitan dalam menggunakan bahsa ini selanjutnya akan menghalangi individu tersebut dari komunikasi yang mempunyai arti dan juga berinteraksi. Problem berbahasa dapat menimbulkan efek negatif pada pendidikan seperti membaca, menulis dan pemahaman (Gfeller, & Baumann, 1988).

Secara signifikan terapi musik memberikan konstribusi pada kemampuan untuk berkomunikasi dan berbahasa pada pasien tuna rungu. Sebagai contoh Gfeller (1990), mendiskusikan tentang pengayaan repertoire musik dan pengalaman bergerak dalam terapi musik, yang dapat di gabungkan dengan percakapan dan, setelahnya penulisan kata. Anak-anak kecil terutama menggunakan setiap saat pergerakan motorik dan belajar sesuatu melalui manipulasi dari lingkungannya. Instrument musik dan materialnya kaya akan sumber-sumber keterlibatan pada sensorik dan motorik. Pengalaman pada Multi sensory bahwa musik merupakan alat pembelajaran yang bernilai, yang pada akhirnya juga terkait pada representasi mental atau simbol, Gfeller (1990). Event musik dan sekuensialnya dapat dibuat oleh para terapis sebagai model penggunaan bahasa untuk anak. Semenjak rehabilitasi bahasa merupakan suatu proses yang panjang dan lama, terapis musik dapat memberikan motivasi penting untuk membuat aktifitas menjadi bermain dan menyenangkan. Aktivitas dalam terapi musik dapat juga membuat suatu oportuniti untuk menggunakan konsep bahasa dalam konteks yang berbeda

Penelitian lain juga menemukan bahwa integrasi musik dalam pendidikan sebagai bahasa seni sangat menguntungkan (Darrow, 1989; Gfeller, & Darrow, 1987). Tidak hanya meningkatkan motivasi tapi juga memberikan sebuah pendekatan multi sensori untuk belajar, yang dapat membantu pasien untuk mendalami arti dari kata-kata baru. Bernyanyi contohnya, memberikan suatu kesempatan untuk secara intensif menggunakan pendengaran dan beraktifitas vokal. Mempelajari lagu dapat menstimulasi latihan dalam pembedaan auditori, membedakan dan meleburkan bunyi huruf, pengucapan suku-suku kata dan pelafalan kata (Gfeller, & Darrow, 1987). Hal ini dapat juga membantu mengembangkan penguasaan kata-kata dan memberikan suatu pengalaman dalam belajar membuat struktur kalimat dan semantiknya. Membuat lagu dapat juga bertujuan sama. Lagu juga mempunyai kelebihan dalam melafalkan suatu patron nada, menjadi tidak monoton.

Disamping meningkatkan perkembangan bahasa dan mendidik bahasa pada pasien tuna rungu, terapi musik juga meningkatkan kemampuan berkomunikasi dengan memberikan semacam kesadaran dan kemampuan melihat suatu arti yang diselaraskan/disampaikan melalui “nada pada suara”. Hal-hal penting didalam berkomunikasi dengan orang lain adalah espresi wajah, body language, dan pitch serta intensitas dinamik. Kesadaran dan kepekaan terhadap style dari bahasa yang diucapkan oleh diri sendiri dan orang lain, dapat diberikan dengan berhasil melalui penerapan terapi musik. Dengan menggayakan suatu lagu dan memberi isyarat pada lagu dengan cara yang “gaya baik/indah”, seseorang dapat mempelajari untuk menggunakan dan menyadari nuansa dalam berkomunikasi dengan yang lain (Gfeller, & Darrow, 1987). Berisyarat dalam bernyanyi juga memberikan suatu kesempatan untuk mengeksplorasikan ekspresi dari emosi sendiri, karena lirik dan melodi secara persamaan dapat mengungkapakan suatu ekspresi jiwa dibandingkan dengan hanya berbicara.

Mengembangkan jiwa sosialisasi, kesadaran diri, kepuasan emosinal dan meningkatkan kepercayaan diri

Didalam beberapa literatur mengkarakterkan bahwa seseorang tuna rungu mempunya perasaan kuat akan rendah diri dan depresi, juga mempunyai sikap tidak bisa dipengaruhi dan tertutup (lihat ulasan ulang dari Galloway, & Bean, 1974). Body-image dan kesadaran yang tidak terlalu baik, kurangnya berbahasa dan berkomunikasi, dan tertutupnya rasa sosialisasi, memberikan kontribusi secara signifikan pada perasaan-perasaan ini. Terapi musik dapat memberikan kesempatan yang penting untuk memperbaiki masalah ini dan meningkatkan rasa percaya diri seseorang yang tuna rungu.

Brick (1973) menemukan eurhythmics—Seni dari keharmonisan dan gerak tubuh yang ekspresif—dan aktifitas musik yang memberikan pasien suatu pengalaman yang menyenangkan, dimana hal tersebut memberikan energi kreatif untuk pasien. Hal ini sebaliknya membantu mengembangkan kepercayaan diri, memberi rasa bangga dalam menyelesaikan sesuatu dan bekerja sama dalam satu grup. Robbins & Robbins (1980) juga menemukan bahwa aktifitas kelompok musik dapat memberikan contoh untuk menyesuaikan didalam bersosialisasi. Hasil hakiki yang didapat dalam pengalaman bermusik sepertinya dapat memotivasi pasien yang selalu melawan untuk dapat bekerja sama (co-operative), yang selalu tidak fokus menjadi fokus dan yang selalu gagal menjadi berusaha untuk selalu menyelesaikan pekerjaannya. Pasien yang juga selalu jelek/gagal dalam hal lain, dapat menerima bantuan spesial dan kompensasi yang baik melalui terapi musik ini.

Body-image dan kesadaran juga dapat meningkat melalui terapi musik ini. Galloway & Bean (1974) menemukan bahwa aktivitas bernyanyi dan melakukan gerakan pada musik juga efektif. Robbins & Robbins (1980) juga menekankan pentingnya realistis dan positif pada diri sendiri. Mereka menemukan juga bahwa kecakapan dalam bergerak yang dipelajari melalui musik dapat meningkatkan rasa percaya diri, koordinasi, sikap tenang yang alami dan kesadaran akan jati diri.

Bernyanyi, bermain atau bergaya pada suatu lagu dapat menghasilkan seseorang untuk dapat berekspresi dan puas terhadap diri secara emosional. Gfeller & Darrow (1987) menyarankan bahwa bergaya atau bernyanyi pada lagu yang dibuat sendiri, juga dapat membuat seseorang tuna rungu untuk mengekspresikan atau mengilustrasikan pikirannya, perasaannya dan idenya bila hal itu terlalu sulit untuk dituliskan. Staum (1987) juga menemukan bahwa tehnik dan prosedur terapi musik dapat memberikan suatu skill yang fungsional yang dapat terintegrasi langsung di dalam pelajaran musik secara private maupun secara klasikal. Melalui suatu cara yang dapat di transfer diluar sesi terapi, seseorang lebih bisa dan senang untuk berekspresi pada situasi baru , bertemu orang baru, dan dapat bekerja dalam suatu grup-grup. Hal ini sebaliknya pula memberikan suatu rasa tanggung jawab sosial juga kesadaran, kebanggan dan kepercayaan diri dan sosial.

Kepustakaan

Amir, D., & Schuchman, G. (1985). Auditory -training through music with hearing-impaired preschool children. The Volta Review, 87(7), 333-343.

Investigates the effects of auditory training within a musical context on how hearing-impaired preschool children use their residual hearing. Found music therapy techniques to be a useful adjunct to other techniques for maximizing residual hearing use.

Brick, R. (1973). Eurhythmics: One aspect of audition. The Volta Review, 75(3)155-160.

Describes the use of eurhythmics–the art of. harmonious and expressive bodily movement-to enhance the teaching of speech and audition.

Darrow, A. (1984). A comparison of rhythmic responsiveness in normal and hearing impaired children and an investigation of the relationship of rhythmic responsiveness to the supra segmental aspects of speech perception. Journal of Music Therapy, 21(2), 48-66.

Investigates differences between normal and hearing impaired children’s rhythmic responsiveness. Discusses rhythmic responsiveness as related to perception of prosodic elements of speech.

Darrow, A. (1989). Music therapy in the treatment of the hearing-impaired. Music Therapy Perspectives, 6, 61-70.

Details a music therapy procedure for auditory training and the speech and language development of the hearing impaired.

Darrow, A., & Starker, G. (1986). The effect of vocal training on the intonation and rate of hearing impaired children’s speech. Journal of Music Therapy, 23(4), 194-201.

Examines the effect of vocal training on the fundamental frequency, frequency range, and speech rate. Results indicate significant reduction in fundamental frequency and increase in frequency range.

Galloway, H., & Bean, M. (1974). The effects of action songs on the development of body-image and body-part identification in hearing-impaired preschool children. Journal of Music Therapy, 11, 125-134.

Results suggest that music may be a useful method in teaching selected concepts to hearing-impaired persons.

Gfeller, K. (1990). A cognitive-linguistic approach to language development for the preschool child with hearing impairment: Implications for music therapy practice. Music Therapy Perspectives, 8, 47-51.

Outlines the basic components of a cognitive-linguistic model for language rehabilitation and discusses them as they relate to music therapy practice.

Gfeller, K., & Baumann, A. (1988). Assessment procedures for music therapy with hearing impaired children: Language development. Journal of Music Therapy, 25(4), 192-205.

Presents an overview of language problems common to hearing impaired children, and major treatment goals and procedures in speech pathology and music therapy. Prominent assessment procedures in measuring language development are also examined.

Gfeller, K, & Darrow, A. (1987). Music as a remedial tool in the language education of hearing-impaired children. The Arts in Psychotherapy, 14, 229-235.

Discusses the role and potential of creative experience, particularly songwriting and song signing, in the language arts education of hearing impaired children.

Robbins, C., & Robbins, C. (1980). Music for the hearing impaired and other special groups: A resource manual and curriculum guide. St. Louis: MagnaMusic-Baton.

Staum, M. (1987). Music notation to improve the speech prosody of hearing impaired children. Journal of Music Therapy, 24(3), 146-159.

Discusses music notational cues as effective in improving the verbal rhythmic and intonational accuracy of hearing impaired children’s speechKerusakan pendengaran ditengarai merupakan salah satu kecacatan syaraf yang paling merusakkan. Dimana kecacatan penglihatan merupakan handicap kita dengan sekeliling kita, sedangkan kecacatan pendengaran merupakan handicap komunikasi dengan masarakat (Darrow, 1989). Komunikasi merupakan dasar dari kehidupan social kita dan aktivitas intelektual, dan tanpa itu kita terputus dari dunia. Untuk alasan inilah, praktek klinik dalam terapi musik untuk tuna rungu di fokuskan pada area yang berhubungan dengan komunikasi seperti : pelatihan auditory, produksi suara (berbicara) dan perkembangan bahasa. Melalui penelitian dalam kekurangan pada komunikasi ini, terapi musik menjadi suatu efek kedua untuk memperbaiki rasa sosial dan kepercayaan diri.

http://icanhear.multiply.com/journal/item/8/Finally_Terjemahan_Terapi_Musik_untuk_Anak_Tuna_Rungu_edisi_TAMAT

Sumber: http://tunarungu.blogdetik.com/category/metode-komunikasi/

KENALI ALKITAB KITA (YABINA)

WANTED
WANTED

Bagi para Guru Sekolah Minggu dan orang tua (ayah dan ibu, kakek-nenek, paman, bibi, semuanya terutama sang ayah sebagai Imam!), wajiblah bagi kita untuk senantiasa belajar dan terus belajar Firman Tuhan. Berikut ini adalah penuntun yang baik untuk kita belajar secara sistematis di tahap awal, sebagaimana dituntun dalam bahan ajar yang disediakan oleh Yabina Ministry berikut ini.

Untuk mendapatkannya silakan klik judul-judul di bawah dan bagi yang menginginkan bahan selengkapnya silakan kunjungi http://www.yabina.org/.

101 – Pengantar Alkitab

102 – Pengantar PL (1)

103 – Pengantar PL (2)

104 – Kitab Nabi Besar

105 – Kitab Nabi Kecil

106 – Pengantar PB & Injil

107 – Surat Paulus

108 – Surat Pastoral

109 – Prinsip Menafsir

110 – Menafsir Alkitab

Nah, tunggu apalagi? Selamat belajar.

BELAJAR ALKITAB (POWERPOINT)

Bahan-bahan berikut ini diperoleh atas kebaikan hati Bapak Bagus Pramono dan teman-teman dari Portal SarapanPagi http://portal.sarapanpagi.org, Tuhan Yesus memberkati “sarapan” bergizi mujizat ini!

Sejak kelas paling junior, Firman Tuhan harus sudah mulai diajarkan dengan cara yang sesuai dengan tahapan perkembangan mereka. Untuk murid Sekolah Minggu yang sudah lebih besar (pra-remaja sampai dengan remaja) berikut ini bahan ajar dalam format presentasi PowerPoint.

Bagi sekolah minggu di gereja-gereja yang sudah menggunakan alat projektor, materi ini sangat menarik dan tersusun detail, sedangkan bagi yang belum menggunakan projektor, mungkin bisa dicetak hitam-putih dan difotokopi. Saya yakin rekan-rekan guru sekolah minggu yang kreatif dapat menemukan cara yang baik dengan sarana yang ada.

Bagi yang ingin menggunakannya silakan download, tinggal klik dan simpan.

1 PENDAHULUAN

2 MASA KECIL YESUS

3 PELAYANAN DI GALILEA

4 PELAYANAN DI YUDEA

5 PELAYANAN DI PEREA

6 YERUSALEM

TABERNAKEL

SKIN HUNGER

KASIH YG TERBESAR

PIKULLAH KUK

TAMPAR PIPI-KANAN

Nah, jika sudah download, jangan lupa mendalaminya terlebih dahulu sebelum menyajikannya di kelas Anda. Ajarkan dan laksanakan, jalani lalu saksikan. Percayalah, hidup Anda diberkati luar biasa. Selamat! Andalah anak pilihanNya.

Blog di WordPress.com.

Atas ↑